Pengaruh Pembelajaran Geografi Berbasis Masalah Dengan Blended Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa MAN Labuhanbatu
Keywords:
Pembelajaran Berbasis Masalah, Blended Learning, Berpikir KritisAbstract
Abstrak. Perkembangan pola pembelajaran saat ini mulai bergeser menjadi student center. Hal ini juga
dibarengi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad 21 yang memunculkan
permasalahan di segala bidang. Dari permasalahan tersebut diperlukan sebuah inovasi pembelajaran
yang dapat mengaitkan materi dengan permasalahan nyata yang bertujuan mengembangkan kemampuan
bernalar siswa dengan baik. Salah satu model pembelajaran yang menekankan siswa membangun
pengetahuannya dengan berpikir kritis adalah pembelajaran berbasis masalah. Pada pelaksanaan
pembelajaran tersebut dapat dimaksimalkan dengan teknologi yang memanfaatkan jaringan internet
yang dikenal dengan istilah blended learning. Blended learning merupakan perpaduan pembelajaran
tatap muka dan pembelajaran jarak jauh. Hal ini memberi keuntungan bagi siswa untuk mengulang
ataupun bertanya tentang materi yang belum jelas sehingga memudahkan siswa untuk merencanakan,
dan melaksanakan pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
penerapan pembelajaran Geografi berbasis masalah dengan blended learning terhadap kemampuan
berpikir kritis siswa kelas XI IPS MAN Labuhanbatu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan
yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji hipotesis
menunjukkan bahwa bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.
References
Birch, D. & Volkov, M. 2007. Assessment of online reflections: Engaging English second language
(ESL) students. Australasian. Journal of Educational Technology, 23(3), 291—306. (online)
http://www.ascilite.org.au/ajet/ajet23/birch.html), diakses 24 Juni 2015.
Bliuc, Ana Maria. Goodyear, Peter. Ellis, Robert A. 2007. Research focus and methodological choices
in studies into students' experiences of blended learning in higher education. Internet and
Higher Education 10 231–244 (online)
(http://3746ko3j52qt1kvy6d2d1reea88.wpengine.netdna-cdn.com/ana-mariabliuc/
files/2012/03/BliucGoodyear-Ellis-2007.pdf) diakses tanggal 24 Juni 2015
Dart, J. 2009. Learning and Teaching Guides Problem Based Learning in Sport, Leisure and Social
Sciences. Leeds Trinity & All Saints (online),
(https://www.heacademy.ac.uk/sites/default/files/ssg_pbl_casestudies.pdf), diakses 24 Juni
Direktorat Ketenagaan: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2010. Modul Pendamping
Pengembangan BERMUTU. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional.
Khaerudin. 2011. Model Pembelajaran Blended Learning Berbasis Pendekatan Konstruktivistik Pada
Matakuliah Evaluasi Hasil Belajar. Jurnal teknologi Pendidikan Vol. 13 (2): 114—124.
Nurhadi, dkk. 2009. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Sandi, G. 2012. Pengaruh Blended Learning terhadap Hasil Belajar Kimia ditinjau dari Kemandirian
Siswa. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 45, Nomor 3, Oktober 2012, hlm.241—251.
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Scriven, Michael and Paul, R. 2007. Defining Critical Thinking.(Online),
(http://www.criticalthinking.org/aboutCT/definingCt.cfm), diakses, 20 Juni 2015Trilling &
Fadel. 2009. 21st Century Learning Skills. San Fransisco: CA John Wiley & Sons.
Sumarmi. 2012. Model-Model Pembelajaran Geografi. Malang: Aditya Media Publishing.


