PARADIGMA PLURALISME AGAMA DALAM MENJAGA NILAI-NILAI KEINDONESIAAN

Authors

  • Dulkarim Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
  • Desvian Bandarsyah Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

DOI:

https://doi.org/10.22236/semnas/11519-531209

Keywords:

Paradigm, Pluralism, Religion, Indonesia

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas lebih dalam dan menganalisis konsep paradigma pluralisme dalam menjaga nilai-nilai keindonesiaan, dikarenakan terdapat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan hal tersebut. Pemahaman tentang pluralisme agama, menjadi begitu penting dikaji dan diperdalam untuk dapat menjawab realitas kehidupan beragama di Indonesia, seiring maraknya politik identitas agama sebagai salah satu modal kerusuhan. Metodologi penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat langkah, yakni: (1) heuristik merupakan kegiatan mencari sumber untuk mendapatkan data-data sejarah; (2) kritik merupakan kegiatan menyeleksi data-data yang didapatkan; (3) interpretasi merupakan kegiatan menguraikan fakta-fakta sejarah yang didapatkan; (4) historiografi merupakan kegiatan penulisan sejarah berdasarkan fakta-fakta sejarah yang didapatkan.. Pluralisme agama adalah sebuah paham tentang pengakuan keberadaan (bahkan kebenaran, untuk kalangan tertentu) agama-agama lain dalam pandangan Islam yang menganjurkan manusia untuk bersikap dewasa dan positif dalam menghadapi keadaan tersebut, menerima keanekaragaman, toleransi yang memberikan kebebasan dan kesempatan bagi setiap orang menjalani kehidupan menurut keyakinan masing, karena yang dibutuhkan dalam masyarakat majemuk adalah agar setiap manusia berlomba-lomba dalam kebaikan dengan jalan yang sehat dan benar. Pluralisme agama lahir dari fenomena konflik antar agama yang kemudian mengharuskan lahirnya sikap toleransi antara pemeluk agama satu dengan pemeluk agama yang lain. Pluralisme agama dalam Islam didasarkan pada bukti bahwa Islam merupakan agama inklusif yang bersifat terbuka yang mempunyai sikap-sikap unik yang berbeda dari sikap-sikap kegaamaan yang lain, yaitu toleransi, kebebasan, keterbukaan, keadilan dan kejujuran. Serta terdapat nilai-nilai keindonesiaan yang di antaranya: Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, serta Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan Tradisi.

 

References

A’la, A. (2002). Melampaui Dialog Agama. jakarta: PT Kompas.

Barbour, I. G. (2013). Agama dan Sains. Amerika:

Harper Collins.Barton, G. (1997). Biografi Gus Dur. Jakarta:

Mahabbah.BM, S. A. (2014). Konflik Sosial dalam Hubunga Antar Umat Beragama. Jurnal dakwah Tabligh, 15(2),189–208. https://doi.org/https://doi.org/10.24252/jdt.v15i2.348Bruno, L. (2019). 済無No Title No Title. In Journal of Chemical Information and Modeling(Vol. 53). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Fahrurrozi, F. (2015). Ekspresi Keberagamaan Masyarakat Islam Indonesia: Mozaik Multikulturalisme Indonesia. TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, 7(1), 15–34. Retrieved from http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/toleransi/article/view/1419Franz, & SJ, M.-S. (1995). Mencari Sosok Demokrasi: Telaah Filosofis. Jakarta: Gramedia.

Ghazali. (2009). No Title. depok: Katakita.Ghufron. (2016). Ekspresi Keberagaman di Era Milenium. Yogyakarta: IRCisoD.Gunawan, R. (2013). Sejarah Asia Tenggara. Bandung: Alfabeta.Haejong, J. (2009). Dissertation Abstract: A Critical Evaluation of John Hick’s Religious Pluralism in Light of His Eschatological Model. Andrews University Seminary Studies (AUSS), 47(2), 6.

Legenhausen, M. (1392). Islam and Relegious Pluralism. شرکت ملی پخش فرآرده های نفتی انرژیزا ,14 ,1–44.

Maarif, A. S. (2009). . Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Refleksi Sejarah. jakarta: PT Mizan.Madjid, N. (1995a). Islam: Doktrin dan Peradaban. jakarta: Paramadina.

Madjid, N. (1995b). Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.

Moko, C. W. (2017). Pluralisme Agama Menurut Nurcholis Madjid (1939-2005) Dalam Konteks Keindonesiaan. Medina-Te : Jurnal Studi Islam, 13(1), 61–78.

Prosiding Seminar Nasional Penguatan Riset dan Luarannya sebagai Budaya Akademik di Perguruan Tinggi memasuki Era 5.0531https://doi.org/10.19109/medinate.v13i1.1542Nasikun. (2008). No Title. jakarta: rajawali.

Sahfutra, S. A. (1988). Gagasan pluralisme agama gus dur untuk kesetaraan dan kerukunan. 89–113.

Santoso, D. (2014). Menggagas Indonesia Masa Depan. Jakarta: Tebet 66.Sirad, A. (2008). berkah islam Indonesia. jakarta: Pustaka Cendekiamuda.

Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Jakarta: Ombak.Sugiyono. (2019). Metodologi Penelitian. Bandung: Alfabeta

.Suswandari, S. (2010). Paradigma Pendidikan Sejarah Dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 1(1), 331–342. https://doi.org/10.21831/cp.v1i1.216Talib, A. A. (n.d.). Bangsa, Membangun Keharmonisan. (14), 61–78.

Thoha, A. M. (2005). Tren Pluralisme Agama(Indra, ed.). jakarta: Gema Insani.

Wahid, A. (2006). Islam Anda Islam Saya Islam Kita. Jakarta: Gramedia.Wahid, A. (2007). Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan. Jakarta: Gramedia.

Downloads

Published

2020-08-27

How to Cite

Dulkarim, & Desvian Bandarsyah. (2020). PARADIGMA PLURALISME AGAMA DALAM MENJAGA NILAI-NILAI KEINDONESIAAN. Prosiding Seminar Nasional Berseri, 1(1), 519–531. https://doi.org/10.22236/semnas/11519-531209