PERAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA DALAM PENANGGULANGAN BENCANA HIDROMETEOROLOGI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2019

Authors

  • HMPG UHAMKA pendidikan Geografi UHAMKA
  • Tukiyat
  • Satyo Nuryanto
  • F. Heru Widodo
  • R.Djoko Goenawan

Keywords:

Teknologi Modifikasi Cuaca, Mitigasi Bencana Hidrometeorologi, Kebakaran Hutan

Abstract

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sangat rentan terjadi pada musim kemarau yang hampir terjadi setiap tahun di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kurangnya curah hujan menjadi salah satu penyebab utama munculnya titik api (hotspot) yang rentan terhadap kebakaran. Wilayah yang sering terjadi kebakaran hutan dan lahan antara lain Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Provinsi Kalimantan Barat merupakan satu dari enam provinsi yang mempunyai lahan gambut yang cukup luas yang sangat mudah terbakar pada musim kemarau. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dilakukan untuk memitigasi dan meminimalkan dampak dari bencana Karhutla baik untuk mengatasi asap maupun untuk mematikan hotspot yang terjadi. TMC yang dilakukan oleh BBTMC-BPPT berupaya melakukan penyemaian terhadap awan yang berpotensi sebagai awan potensial (Seedable-Cloud). Penerapan TMC dilakukan pada periode 18 September – 06

 

Oktober 2019, dengan posko berada di Lanud Supadio, Pontianak. Data yang dibutuhkan dalam kajian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan cuaca lokal di Posmet (Pos Pengamatan Meteorologi) dan data curah hujan. Data sekunder berupa cuaca global dan data prediksi yang bersumber dari BMKG maupun lembaga penyedia data lainnya yang relevan. Untuk monitoring data curah hujan diperoleh dari ECMWF, GFS, dan TRMM. Hasil pengumpulan data selanjutnya dianalisis dengan metode deskriptif dan kuantitatif untuk mengetahui efektivitas operasional TMC mitigasi bencana karhutla. Kegiatan TMC di Provinsi Kalimantan Barat, merupakan yang “signifikan (efektif dan efisien)” dengan durasi hanya 28 hari (tercepat), sementara jika dibandingkan dengan kegiatan TMC di Riau, selama hampir 10 bulan (terlama), Februari – November 2019. Hasil kajian dapat disimpulkan bahwa operasional TMC dapat meningkatkan curah hujan dan mereduksi titik api yang tumbuh di Kalimantan Barat. Pada saat awal kegiatan TMC terdapat titik api sebanyak 565 titik dan selama kegiatan berjalan tanggal 27 September 2019 titik api berjumlah nol dan seterusnya jumlah titik api berfluktuasi relatif kurang dari 10 titik. Dengan jumlah titik api yang cukup terkendali tersebut, maka operasional TMC dinyatakan dapat diberhentikan oleh BNPB dan BPBD atas masukan-masukan dari analisis BMKG dan BPPT. Selama kegiatan TMC di Kalimantan Barat telah dilakukan penerbangan penyemaian awan sebanyak 23 sorti dengan jumlah jam terbang sebanyak 56 jam 10 menit dan menghabiskan bahan sebanyak NaCl sebanyak 30.400 kg. bahan semai CaO sebanyak 7.200 kg. selama kegiatan ini jumlah air yang hujan yang dapat dihitung sebanyak 1.9 milyar m3.

Published

2022-07-16

How to Cite

pendidikan Geografi, H. U., Tukiyat, Nuryanto, S., Widodo, F. H., & Goenawan, R. . (2022). PERAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA DALAM PENANGGULANGAN BENCANA HIDROMETEOROLOGI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2019. Prosiding Seminar Nasional Berseri, 1(1). Retrieved from https://proceedings.uhamka.ac.id/index.php/semnas/article/view/514

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>